FOLLOWERS

Tuesday, August 3, 2010

PERIHAL ANCAMAN IBLIS DAN FITNAH TIPUDAYANYA : Belitan Iblis Oleh Ibnul Qayyim

Berkata Syaikh Abul Faraj rahimahullahu-ta'ala:

Ketahuilah bahawa apabila anak Adam diciptakan, dilengkapkan padanya hawa nafsu dan syahwat untuk dia menikmati apa yang mendatangkan manfaat bagi dirinya. Dan diletakkan pula padanya sifat marah untuk menolak apa yang bakal mengganggunya. Kemudian dia diberikan akal sebagai pendidik dirinya, menyuruhnya berlaku adil dalam urusan apa yang mesti diambil dan apa yang mesti ditinggalkan. Kemudian diciptakan syaitan baginya untuk menghasutnya membuat leluasa dalam urusan apa yang diambilnya dan apa yang ditinggalkan-nya.

Maka yang wajib atas orang yang berakal waras menjaga diri daripada musuh yang telah menyatakan permusuhannya dari sejak zaman Nabi Adam alaihis-shalatu wassalam. Musuh ini telah menghabiskan semua umurnya dan daya upaya nya dalam hal merosakkan semua urusan anak-anak Adam. Allah Ta’ala juga telah meMerintah Bani Adam supaya berhati-hati daripada hasutan syaitan, sebagai-mana bunyi firman Allah yang berikut:

"Awas, jangan kamu mengikut langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. Scsungguhnya syaitan itu menyuruh kamu berbuat buruk dan keji (zina), dan supaya kamu mengatakan terhadap Allah sesuatu yang kamu sendiri tiada mengetahui." (Al-Baqarah: 168-169)

Allah berfirman lagi:

"Syaitan itu sentiasa menjanjikan kamu kemiskinan dan menyuruh kamu melakukan kekejian!" (Al-Baqarah: 268)

Allah berfirman lagi:

"Syaitan itu mahu menyesatkan mereka sejauh-jauh kesesatan." (An-Nisa': 60)

Allah berfirman lagi:

"Hanyasanya syaitan itu hendak menimbulkan di antara kamu permusuhan dan berbencian-bencian dalam hal minuman keras dan bermain judi, dan menghalangi kamu dari mengingati Allah dan mengerjakan shalat, apakah masih kamu tidak mahu berhenti?" (Al-Maidah: 91)

Allah berfirman lagi:

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi terang." (Al-Qashash: 15)

Allah berfirman lagi:

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagi kamu, maka perlakukan-lah dia sebagai musuh. Hanyasanya dia mengajak golongannya untuk menjadi penghuni neraka Sa'ir. " (Fathir: 6)

Allah berfirman lagi:

"Dan jangan sampai dia (syaitan) dapat menipu kamu terhadap Allah dengan suatu penipuan.” (Luqman: 33)

Allah berfirman lagi:

"Bukankah Aku sudah mengingatkan kamu wahai anak Adam, supaya kamu jangan memuja syaitan, kerana sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu?" (Yasin: 60)

Di dalam Al-Quraan terdapat banyak lagi firman-firman Allah yang bertalian dengan perkara ini.

Berkata Syaikh Abul Faraj rahimahullahu-ta'ala:

Hendaklah anda tahu bahwa Iblis yang sungguh berdaya upaya untuk membelit manusia, dosanya yang pertama sekali ialah kekeliruannya terhadap perintah (Allah), sehingga ia membelakangkan perintah yang sudah jelas menyuruhnya bersujud (kepada Adam), lalu ia mula memperbandingkan dalam hal asal kejadiannya dengan manusia, lalu ia berkata:

"Engkau (Tuhan) menjadikan aku dari api dan Engkau menjadikan dia (Adam) dari tanah.” (Shad: 76)

Tidak cukup itu, syaitan lalu mengulangi lagi keingkarannya terhadap Tuhan Maharaja yang bijaksana dengan berkata:

"Apakah Engkau tiada melihat orang yang Engkau muliakannya atas diriku?!" (Al-Isra': 62)

Maksudnya, kenapa Engkau, wahai Tuhan, melebihkan dia atas diriku? Tegasnya pembangkangan syaitan itu adalah semacam suatu protes untuk menunjukkan bahwa apa yang dibuat oleh Allah Ta’ala itu tidak bijaksana, sebab itu kemudian syaitan berani mengatakan pula:

"Aku (kata syaitan) adalah lebih utama daripadanya (Adam)." (Shad: 76)

Kemudian syaitan enggan menurut perintah Allah supaya bersujud, maka pada hakikatnya dia telah menghinakan dirinya sendiri yang kononnya dia mahu dimuliakan, iaitu dengan mendapat laknat dan janji akan disiksa secara abadi di dalam api neraka.

Jadi, apabila syaitan membisikkan pada dirimu sesuatu perkara, maka hendaklah engkau berhati-hati kepadanya bahwa ia akan menyuruhmu hanya yang jahat saja, dan hendaklah engkau mengatakan kepadanya: Apa yang engkau suruh aku lakukan itu, pada kenyataannya ialah semacam nasihat untuk aku mencapai keinginan hawa nafsuku, akan tetapi bagaimana aku dapat pastikan yang nasihatmu itu benar, padahal engkau sendiri tidak dapat menasihatkan dirimu dahulu? Bagaimana aku boleh percaya dengan nasihat seorang musuh? Maka lebih baiklah engkau pergi saja dari sini! Sungguh kata-katamu itu tidak laku padaku!

Kemudian hendaklah engkau minta bantuan jiwamu, kerana syaitan itu selalu menghasut hawa nafsumu. Ketika itu hendaklah engkau membawa akalmu supaya berfungsi di dalam rumah pemikiran untuk dia meneliti akibat dosanya, moga-moga akan datang bantuan Allah dengan menurunkan taufiqNya, sehingga memperteguh tentera-tentera keazamannya untuk menghancurkan tentera-tentera hawa nafsu dan syahwat yang dihasut oleh syaitan tadi.

Telah memberitahuku Abdul Wahab bin Al-Mubarak, memberitahuku Ashim bin Al-Hasan, memberitahuku Abu Umar bin Mahdi, berbicara kepadaku Al-Husain bin Ismail, berbicara kepadaku Zakariya bin Yahya, berbicara kepadaku Syamah bin Sawwar, berbicara kepadaku Al-Mughirah, daripada Mutharrif bin Asy-Syikhkhir, daripada lyadh bin Himar, katanya:

Telah bersabda Rasulullah s.a.w.:

Wahai manusia! Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkanku untuk mengajar kamu apa yang kamu jahil (tidak tahu) dari apa yang diajarkanNya kepadaku pada hari ini. Sesungguhnya semua harta yang aku berikan kepada hambaKu adalah halal baginya. Dan Aku menciptakan para hambaKu semua mereka bersih suci, lalu datang kepada mereka syaitan mengelirukan mereka dalam urusan agama mereka. Dan Aku menyuruh mereka supaya jangan mempersekutukan Aku dengan mana-mana kekuasaan yang Aku tidak turunkan tentang itu. Dan bahawasanya Allah Ta’ala telah memerhatikan semua penghuni bumi, lalu dikutukNya mereka, baik kaum Arabnya mahupun kaum ajamnya, melainkan segelintir sisa dari kaum Ahli Kitab.

Telah memberitahuku Ibnu Al-Hushain, katanya telah memberitahuku Ibnu Al-Mudzahhab, memberitahuku Ahmad bin Ja'far, berbicara kepadaku Abdullah bin Ahmad, berbicara kepadaku Ubai, berbicara kepadaku Yahya bin Said, berbicara kepadaku Hisyam, berbicara kepadaku Qatadah, daripada Mutharrif, daripada lyadh bin Himar, bahawasanya Nabi s.a.w. pernah bangun berpidato pada suatu hari, lalu beliau berkata dalam pidatonya:

Sesungguhnya Tuhanku menyuruhku mengajar kamu .... hingga ke akhirnya sebagaimana bunyi sabda yang di atas.

Telah memberitahuku Ibnu Al-Hushain, telah memberitahuku Ibnu Al-Mudzahhab, memberitahuku Ahmad bin Ja'far, berbicara kepadaku Abdullah bin Ahmad, berbicara kepadaku Ubai, berbicara kepadaku Abu Mu'awiyah, berbicara kepadaku Al-A'masy, daripada Abu Sufyan, daripada Jabir bin Abdullah r.a. katanya, telah berkata Rasulullah s.a.w.:

Sesungguhnya Iblis meletakkan singgahsananya di atas air, kemudian dia memanggil para pengiringnya, dan yang paling dekat kepadanya ialah yang paling berat fitnah yang dicubainya. Maka datanglah setiap satu dari mereka seraya berkata: Aku telah me-lakukan begini dan begitu. Maka berkata Iblis kepadanya: Engkau masih belum lakukan apa-apa pun! Kemudian datang yang lain mengatakan: Aku tidak berpisah dengan orang itu melainkan setelah aku berjaya menceraikan antaranya dengan isterinya. Lalu Iblis pun mendekatkan pengiringnya yang ini, dan didudukkannya di sisinya seraya mengatakan kepadanya: Benar, engkau sudah membuat sesuatu! (Riwayat Muslim).

Telah berkata Ahmad, dan telah berbicara kepadaku Abu Nu'aim, berbicara kepadaku Sufyan, daripada Abu Az-Zubair, daripada Jabir r.a. merafakkannya kepada Nabi, bahwa beliau berkata:

Sesungguhnya Iblis telah putus asa gagal menarik manusia untuk menyembah-nya, dan dia kini berusaha untuk menimbulkan sikap permusuhan dengki dan fitnah di antara mereka. (Riwayat Bukhari).

Telah memberitahuku Ismail As-Samarqandi, memberitahuku Ashim bin Al-Hasan, memberitahuku Ibnu Bisyran, memberitahuku Ibnu Shafwan, memberitahuku Abu Bakar Al-Qurasyi, berbicara kepadaku Al-Husain bin As-Sakan, berbicara kepadaku Al-Mu'alla bin Asad, berbicara kepadaku Adi bin Abu Umarah, berbicara kepadaku Ziyad An-Numairi, daripada Anas bin Malik r.a. marfuk kepada Nabi s.a.w. berkata:

Sesungguhnya syaitan itu meletakkan belalainya di hati anak Adam, dan apabila anak Adam itu menyebut Allah, dia terus menyingkirkan diri. Dan apabila anak Adam melupakan Allah, dikuasainya hati anak Adam itu semula.

Telah memberitahuku Muhammad bin Abu Manshur, memberitahuku Abdul Kadir, memberitahuku Al-Hasan bin Ali At-Tamimi, memberitahuku Abu Bakar bin Malik, berbicara kepadaku Abdullah bin Ahmad, berbicara kepadaku Abu Abdul Rahman, daripada Hammad bin Salamah, daripada Atha' bin As-Sa'ib, daripada Amru bin Maimun, daripada Ibnu Mas'ud r.a. katanya:

Sesungguhnya syaitan berkeliling pada kumpulan majlis ahli zikir untuk memperdayakan mereka, tetapi dia gagal untuk memecah-belahkan mereka. Lalu dia mendatangi kumpulan orang yang bercerita dari hal dunia, lalu diperdayakan di antara mereka, sehingga mereka berkelahi. Maka datang pula kumpulan ahli zikir dan memperdamaikan antara mereka, lalu mereka pun berpisah.

Berkata Abdullah, dan telah berbicara kepadaku Ali bin Muslim, berbicara kepadaku Saiyaar, berbicara kepadaku Hibban Al-Hariri, berbicara kepadaku Suwaid Al-Qanawi, daripada Qatadah r.a. katanya:

Bahawasanya Iblis mempunyai seorang syaitan yang dikenal dengan nama Qubqub yang dibiarkannya selama empat puluh tahun tidak bekerja. Apabila ia telah sempurna untuk dipekerjakan, Iblis berkata kepadanya: Sekarang bergiatlah engkau! Aku telah membiarkan selama ini supaya engkau cergas mempengaruhi manusia dan membuat fitnah terhadapnya.

Berkata Saiyaar, dan telah berbicara kepadaku Ja'far, berbicara kepadaku Tsabit Al-Bunani r.a. katanya:

Ada suatu berita yang sampai ke telingaku, bahwa Iblis telah menampakkan dirinya kepada Nabi Allah Yahya bin Zakariya a.s. dan dilihatnya Iblis itu ada membawa banyak cangkuk-cangkuk yang terbuat dari bermacam-macam benda, lalu berkata Yahya kepadanya:

Hai Iblis! Buat apa semua cangkuk-cangkuk ini yang aku lihat tergantung-gantung pada tubuhmu?

Jawab Iblis:

Inilah rupanya syahwat yang dengannya aku memancing anak Adam!

Kata Yahya lagi: Adakah di antaranya yang engkau sediakan untuk aku?

Jawab Iblis lagi: Nantilah apabila engkau rasa kenyang, aku akan pesongkanmu dari solat, dan aku lalaikanmu dari zikir.

Kata Yahya seterusnya: Ada lagi yang lain?

Kata Iblis: Tidak ada, demi Allah.

Berkata lagi Yahya: Aku bersumpah tidak akan memenuhkan perutku dari makanan sama sekali.

Menjawab Iblis pula: Aku bersumpah tidak akan memecahkan rahasiaku kepada manusia Muslim lain kali!

Berkata Abdullah bin Ahmad, berbicara kepadaku Ubai, berbicara kepadaku Waki', berbicara kepadaku Al-A'masy, daripada Hutsaimah, daripada Al-Haris bin Qais r.a. katanya:

Jika syaitan datang kepadamu, sedang engkau dalam sembahyang, lalu berkata kepadamu: Sebenarnya engkau riya' dalam sembahyangmu, maka hendaklah engkau terus memanjangkannya lagi.

Telah memberitahuku Ismail As-Samarqandi, memberitahuku Ashim bin Al-Hasan, memberitahuku Ali bin Muhammad, memberitahuku Abu Ali bin Shafwan, memberitahuku Abu Bakar bin Ubaid, memberitahuku Abdul Rahman bin Yunus, memberitahuku Sufyan bin Uyainah, katanya telah mendengar Amru bin Dinar pada Urwah bin Amir, dia mendengar Ubaid bin Rifa'ah, sehingga kepada Nabi s.a.w. katanya:

Ada seorang rahib pada zaman Bani Israel, kemudian syaitan datang hendak menggodanya. Maka syaitan pun pergi kepada seorang perawan di situ dan dirasuknya. Sesudah itu syaitan membisikkan ke dalam hati keluarga perawan itu, bahwa yang dapat menyembuhkan anak perawan itu ialah sang rahib tadi. Mereka lalu membawa perawan itu kepada rahib untuk dirawatnya, namun sang rahib menolak tidak mahu menerima perawan yang dirasuk syaitan itu kerana khuatir dari fitnahnya.

Tetapi keluarga perawan itu tetap menggesanya dan meminta bantuannya, sehingga akhirnya terpujuk juga hati sang rahib itu, dan tinggallah si perawan itu bersama-sama rahib tadi. Di sinilah datang syaitan lagi seraya menghasut si rahib untuk melakukan perbuatan sumbang kepada perawan itu, sehingga sang perawan mengandung daripada perbuatan serong itu.

Ketika itulah datang sang syaitan kepada rahib, lalu membisikkan ke telinga rahib itu: Sekarang engkau sudah membuat suatu perkara yang memalukan. Apa hendak engkau katakan kepada keluarga si perawan ini, apabila mereka mengetahui hal kejimu itu. Lebih baik engkau bunuh saja perawan itu, dan jika mereka tanya, bilang saja dia sudah mati, habis cerita!

Termakan juga nasihat syaitan tadi pada rahib, lalu dia pun membunuh perawan itu dan ditanamnya.

Syaitan tidak berhenti di situ saja, lalu dia datang kepada keluarga si perawan itu pula, dan diwaswaskan kepada mereka, bahwa sang rahib sudah membuntingkan anak perawannya, kemudian mem-bunuhnya dan menanam mayatnya.

Maka segeralah datang keluarga si perawan tadi bertanyakan hal perawan yang ditinggalkan untuk dirawat kepada sang rahib. Jawab rahib itu: Dia telah mati. Mereka pun mempercayainya.

Tetapi ketika itu datang pula syaitan kepada si rahib itu, seraya berkata: Ingatlah, aku yang menyebabkan semua ini, aku merasuk perawan itu, dan aku yang menghasut hati keluarganya untuk menyerahkannya kepadamu, dan aku juga yang menyebabkan engkau terjebak dalam kekejian itu, maka sekarang hendaklah engkau taat kepadaku, niscaya engkau akan aku selamatkan, kalau tidak aku akan pecahkan tembelangmu. Sekarang sujudlah kepadaku dua kali saja sudah! Akhirnya rahib itu pun bersujud kepada syaitan dua kali sujud. Hal ini sesuai seperti yang dikatakan Allah azzawajalla dalam Al-Quraan:

"Umpamanya seperti syaitan ketika ia mengatakan kepada manusia: Kufurlah (kepada Allah)! Maka apabila dia kufur, berkata syaitan: Aku berlepas diri daripada engkau. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam." (Al-Hasyr: 16)

Hadis ini juga ada riwayatnya yang lain selain versi ini, iaitu apa yang diberitakan daripada Wahab bin Munabbih r.a., katanya:

Ada seorang abid pada zaman Bani Israel, dan dia ternyata seorang abid yang terkenal pada masa itu. Dan ada pula pada zaman itu tiga orang bersaudara, yang mempunyai seorang saudara perempuan yang masih perawan, yang tiada punyai saudara perempuan yang lain. Ketiga-tiga orang yang bersaudara ini mahu keluar untuk berjihad, dan mereka tiada tahu di mana hendak ditinggalkan saudara perempuan mereka itu, siapa yang patut diserahkan amanat itu.

Akhirnya mereka membuat putusan untuk meninggalkan saudara perempuannya itu pada seorang abid yang terkenal pada zaman Bani Israel itu. Itulah satu-satunya orang yang dapat dipercayakan saudara perempuannya nanti.

Mereka pun datang kepada abid tadi untuk meninggalkan saudara perempuannya itu supaya dijaga dan dilindunginya, sehingga mereka kembali dari peperangan mereka. Pada mulanya si abid itu menolak, serta berlindung diri kepada Allah daripada mahu menerima seorang perempuan berada dalam lindungannya. Mereka terus memujuk si abid itu dan menerangkan sebab mereka hendak menyerahkan saudara perempuan mereka itu, hingga akhirnya terpaksa si abid itu menerima juga, maka katanya: Tinggalkanlah dia di sebuah pondok sana di pinggir gerejanya.

Maka ketiga saudara itu pun meninggalkan saudara perempuannya di tempat yang ditunjuk oleh sang abid tadi, dan mereka pergi meninggalkannya di sana untuk menuju ke medan perang. Anak perawan itu pun berdiam di rumah itu beberapa hari, setiap hari si abid itu akan membawa makanan dan meletakkannya di pintu gereja, kemudian menutup pula pintu gereja itu serta memasuki tempat pengkhalwatannya. Lalu anak perawan itu pula akan keluar dari pondoknya berjalan menuju ke pintu gereja itu, dan mengambil makanan itu dan kembali lagi ke pondoknya.

Tidak berapa hari sesudah itu, datang syaitan cuba memujuk hati si abid itu supaya membuat baik kepada sang perawan itu, dan menganggap tidak pantas sang perawan itu keluar dari rumahnya siang hari, dan menimbulkan dalam hatinya perasaan bimbang, kalaulah perawan itu dilihat orang keluar seorangan, lalu diganggunya atau dibuat sesuatu yang tidak baik kepadanya. 'Bukankah baik, kalau engkau dapat membawa makanan itu sendiri dan meletakkannya di pintu pondoknya, bukankah itu lebih mendatangkan pahala bagi perbuatanmu itu?!'

Terpengaruh juga dia dengan bisikan syaitan itu, lalu dia pun berusaha untuk membawa makanan itu dan meletakkannya di pintu pondok perawan itu, dan dalam pada itu dia tetap tidak berkata sepatah pun kepada sang perawan itu.

Begitulah yang dibuat sang abid tadi untuk beberapa waktu. Kemudian datang lagi syaitan membisikkan sesuatu yang lebih baik daripada itu dan akan membuahkan pahala yang lebih besar lagi, seraya menghasutnya seterusnya: 'Kalau engkau tambah sedikit, lalu engkau bawakan makanan itu ke dalam rumah perawan itu, tentu itu akan melebihkan pahalamu!' Maka dia pun membawa makanan itu dan meletakkannya sekali di dalam rumah.

Sesudah berlalu beberapa waktu, maka syaitan pun menghasut-nya lagi, seraya membisikkan: 'Engkau sudah masuk di dalam rumah, mengapa engkau tidak bertanya sapa dan bercakap sekali kepadanya, bukankah itu akan menimbulkan kemeseraan kepadanya, kerana perawan itu duduk seorang diri tiada siapa yang dapat bercakap-cakap kepadanya, tentu dia merasa bosan duduk keseorangan begitu!'

Maka sang abid pun berbicaralah kepada si perawan itu dari atas gerejanya serta melihatnya dari situ untuk beberapa waktu.

Kemudian datang pula Iblis seraya membisikkan: 'Kalau engkau berbicara kepadanya dari pintu gerejamu, dan dia pula dari pintu pondoknya, bukankah itu lebih baik dan lebih mesera?' Maka sang abid itu terpujuk untuk mahu turun dari tempat khalwatnya duduk di pintu gereja berbicara kepada si perawan itu yang duduk di pintu pondoknya. Demikianlah keadaan mereka berdua untuk beberapa waktu.

Kemudian datang lagi Iblis untuk mengajar sang rahib menambah kebajikan dan pahala, bisiknya: 'Apa salahnya kalau engkau pergi sekali ke pintu pondoknya dan bercakap-cakap dengannya di situ, tentulah itu lebih menggembirakannya!' Dan demikianlah yang dilakukan oleh si abid itu untuk beberapa waktu.

Kemudian datang lagi Iblis dan menggalakkannya untuk duduk di pintu pondok itu, dan biar si perawan itu duduk di dalam rumah-nya, bukankah itu lebih baik? Lalu di abid tadi pun tunduk kepada bisikan itu, duduklah di pintu pondok itu, manakala si perawan duduk di dalam pondoknya.

Kemudian datang lagi Iblis membisik pula: 'Kalau engkau masuk ke dalam pondok itu untuk bercakap-cakap dengannya, dan biarkan dia di dalam pondok saja, sehingga wajahnya tidak dapat dilihat oleh orang lain selain engkau saja, tentulah itu lebih bagus!' Maka demikianlah yang dilakukan oleh si abid tadi, duduk bercakap-cakap dengan sang perawan itu hingga tengahari, maka kembalilah dia ke gerejanya.

Kemudian datang lagi Iblis untuk menggoda si abid itu dengan mengkhayalkan keindahan wajah si perawan itu, sehingga akhirnya sang abid hilang pegangan, maka dia pun datang mendapatkan sang perawan itu serta memaut tubuhnya dan menciumnya. Iblis pun terus memperindahkan wajah perawan itu di mata sang abid dan mengharumnya, sehingga akhirnya dia pun bersatu dengannya dan membuntingkannya. Hasil dari perbuatan serong tadi, perawan itu pun melahirkan seorang anak daripada si abid itu.

Sekarang datanglah Iblis menjelma seraya mengatakan: Hai abid! Jika saudara si perawan ini datang melihat semua ini, apakah yang hendak engkau katakan? Tentu engkau akan pecah tembelang, ataupun mereka akan menceritakan perkaramu itu kepada orang. Lebih baik engkau bunuh saja anak haram ini dan tanam dia lekas-lekas sebelum orang tahu, dan si perawan itu tentu akan menyembunyikan rahasiamu kerana takutkan saudara-saudaranya mendapat tahu rahasia kamu berdua. Maka si abid itu lalu membunuh anak itu.

Kemudian Iblis mengatakan kepada si abid lagi: Apakah engkau percaya bahwa si perawan itu akan menutup mulutnya dari hal apa yang sudah engkau lakukan terhadap dirinya, dan sesudah engkau membunuh anaknya? Lebih baik engkau bunuh saja perawan itu dan tanamkan sekali bersama-sama dengan anaknya. Si abid itu terpaksa ikut bisikan Iblis itu, sehingga dia membunuh ibu anak itu juga, lalu kedua-duanya dilontarkan ke dalam lubang, serta ditindihkannya dengan sebatang batu besar, kemudian dikambus dengan tanah, lalu dia kembali ke gereja masuk ke dalam tempat khalwatnya beribadat.

Apabila saudara-saudara sang perawan itu kembali dan bertanyakan saudara perempuannya, maka si abid itu pun menunjukkan kesedihannya dan menangis kerana membelasinya sebab dia sudah mati. Dia berkata: Adikmu itu adalah baik orangnya, dan inilah kuburnya!

Ketiga saudara itu duduk menangis di tepi kubur adiknya serta mengucapkan doa rahmat ke atas rohnya. Mereka tinggal di situ beberapa hari untuk berziarah ke kuburnya. Kemudian mereka pun kembali.

Pada suatu hari, apabila malam telah menurunkan tabirnya, dan setiap seorang dari ketiga-tiga saudara itu telah tidur di tempat tidur masing-masing, maka syaitan telah menjelma dalam tidurnya dalam bentuk rupa seorang lelaki yang baru kembali dari pelayaran, lalu dia datang kepada saudara yang tertua sekali dari adik beradik itu, lalu ditanyakannya dari hal saudara perempuannya, maka berkatalah saudara yang tertua itu: Adik perempuanku telah meninggal dunia! Lalu dia menceritakanlah apa yang telah berlaku dan apa yang di-sampaikan oleh si abid tadi.

Tetapi syaitan mendustakan semua kata-kata abid itu, dan berkata: Si abid itu telah berdusta bila memberitahukan tentang kematian saudara perempuanmu. Sebenarnya dia telah membuntingkan saudara perempuanmu, dan mendapat anak daripada-nya, kemudian dia bunuh anak itu bersama ibunya kerana takutkan tcrpecah tembelangnya bila kamu kembali nanti, lalu dia tanam kedua-duanya dalam lubang yang dikoreknya di belakang pintu rumah yang adikmu tinggal di kanan tempat masuknya. Sekarang bangun dan pergilah ke pondok itu dan berikan perhatian di kanan tempat masuknya, nanti engkau akan mendapati mayat kedua-duanya di situ!

Kemudian syaitan mendatangi saudara yang tengah dalam mimpinya juga, lalu memberitahukan serupa yang apa di beritahukan-nya kepada saudara yang tertua persis tidak lebih dan tidak kurang. Kemudian dia datang pula kepada adik mereka yang bungsu, dan memberitahukan serupa apa yang diberitahukan kepada kedua abangnya.

Apabila mereka semua bangun pagi dari tidur mereka, masing-masing menceritakan mimpinya di malam tadi, dan mereka merasa takjub kerana mimpi itu semua serupa. Lalu berkata saudara yang tertua: Itu hanya mimpi yang kosong saja, dan tidak payahlah kita heboh-hebohkan perkaranya. Tetapi adik yang bungsu tidak puas hati, lalu berkata: Demi Allah, aku tidak akan buat apa pun sebelum aku sendiri pergi ke tempat itu dan melihat sendiri apa yang ada di situ.

Akhirnya mereka sekalian setuju untuk pergi ke pondok itu, dan menyelidiki perkara itu, barangkali betul seperti yang mereka mimpikan itu. Mereka pun membuka pintu dan mengorek di tempat yang ditunjukkan oleh orang musafir yang mereka lihat dalam mimpi mereka itu. Maka benarlah mereka dapati di situ mayat saudara perempuan mereka dan anaknya yang mati terbunuh seperti yang disifatkan oleh orang lelaki di dalam mimpi mereka itu.

Mereka lalu mendapatkan sang abid di gerejanya, seraya bertanyakannya dari hal mayat yang diketemukan di pondok itu. Tidak ada jalan lain melainkan si abid itu mengaku kesemua jenayah yang telah dilakukannya tepat seperti yang diberitakan Iblis dalam mimpi itu.

Hebohlah sudah perkara sang abid ini, dan orang ramai menangkapnya dan melucutkan pangkatnya sebagai orang abid di gereja itu. Kemudian mereka mengikatnya dan hendak diserahkannya untuk digantung di palang salib. Maka ketika itu datanglah pula syaitan kepadanya seraya berkata: Sekarang tentulah engkau sudah tahu bahwa akulah yang membuat semua bencana yang berkaitan dengan perempuan itu, sehingga engkau membuntingkannya, kemudian engkau membunuhnya bersama dengan anaknya. Sekarang jika engkau mahu mentaatiku dengan mengkufuri Allah yang menjadikanmu dan membentukmu, niscaya aku akan menolongmu supaya terlepas dari bahaya yang engkau sedang menghadapi ini!

Tanpa fikir panjang lagi kerana hendak melepaskan diri, si abid itu pun kufur kepada Allah, tetapi malang nasibnya, syaitan tidak menepati janjinya, lalu dibiarkan si abid itu diseret ke tiang salib dan dibunuh di tiang itu. Terhadap orang yang semacam inilah turunnya firman Allah yang berikut:

"Umpama syaitan apabila dia berkata kepada manusia: Kufurlah! Maka apabila dia kufur, lalu syaitan berkata pula: Aku berlepas diri daripadamu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Kesudahannya kedua-duanya bersama-sama akan berada di dalam neraka, kekal di dalamnya buat selama-lamanya, dan itulah tempat balasan bagi orang-orang yang bersalah. " (Al-Hasyr: 16-17)

Ayat ini juga sudah tersebut sebelum ini.

Telah memberitahuku Muhammad bin Abul Qasim, memberitahuku Ahmad bin Ahmad, memberitahuku Abu Nu'aim, memberitahuku Abu Bakar Al-Aajurri, berbicara kepadaku Abdullah bin Muhammad Al-'Uthaini, berbicara kepadaku Ibrahim bin Al-Junaid, berbicara kepadaku Muhammad bin Al-Husain, berbicara kepadaku Bisyr bin Muhammad bin Abaan, berbicara kepadaku Al-Hasan bin Abdullah bin Muslim Al-Qurasyi, daripada Wahab bin Munabbih r.a. katanya:

Ada seorang rahib pada zaman Al-Masih (Nabi Isa a.s.) duduk di dalam gerejanya, lalu Iblis cuba menggodanya, tetapi tidak termakan pancingannya, Iblis terus memasang perangkapnya, namun dia gagal juga.

Maka akhirnya Iblis cuba menyerupai Al-Masih, dia lalu memanggilnya: Wahai rahib! Marilah ke mari, aku mahu berbicara kepadamu! Jawab rahib itu: Pergilah engkau dengan urusanmu itu, aku tetap tidak mahu mensia-siakan umurku yang sisa ini! Berkata Iblis lagi: Cuba engkau lihat kepadaku dulu. Aku ini Al-Masih! Jawab rahib itu pula: Walaupun engkau Al-Masih, aku tetap tidak perlu kepadamu sekarang. Bukankah engkau sudah memerintahkan kami supaya beribadat, dan menjanjikan kami akan hari kiamat? Jadi, sekarang pergilah engkau dengan urusanmu itu, aku tidak perlu apa-apa pun lagi kepadamu, maka harap jangan menggangguku lagi!

Maka Iblis yang terkutuk itu tidak dapat jalan untuk menggoda sang rahib itu, kerana ketegasannya, lalu ia pun pergi dari situ dalam keadaan sedih dan kecewa.

Telah memberitahuku Ismail bin Ahmad, memberitahuku Ashim bin Al-Hasan, memberitahuku Ali bin Muhammad bin Bisyran, memberitahuku Ali Al-Burdu'i, berbicara kepadaku Abu Dakar Al-Qurasyi, berbicara kepadaku Abu Abdullah Muhammad bin Musa Al-Harasyi, berbicara kepadaku Ja'far bin Sulaiman, berbicara kepadaku Amru bin Dinar, berbicara kepadaku Salim bin Abdullah r.a. daripada ayahnya, katanya:

Apabila (Nabi) Nuh alaihis-salam naik ke atas kapalnya, dilihat-nya di atas kapal itu seorang tua yang tiada dikenalinya.

Lalu Nuh bertanya: Apa yang menyebabkan engkau naik kapal ini?

Jawabnya: Aku naik kapal ini untuk memerangkap hati para sahabatmu, supaya hati mereka dengan aku, dan tubuh mereka denganmu.

Berkata lagi Nuh a.s.: Turunlah dari kapal ini, wahai musuh Allah!

Maka berkata Iblis lagi: Ada lima perkara yang akan aku binasakan manusia dengan-nya. Aku akan memberitahumu tiga daripadanya, dan aku akan simpan yang dua lagi.

Maka ketika Allah Ta’ala telah mewahyukan kepada Nuh a.s. supaya memberitahu Iblis yang dia tidak perlu lagi kepada yang tiga itu. suruhlah dia memberitahumu yang dua saja.

Maka berkata Iblis: Dengan dua perkara itu aku dapat membinasakan manusia, dan kedua-dua itu tidak pernah lari dari matlamatnya, iaitu: Dengki dan pergantungan harapan. Dengan dengki aku telah dilaknati dan dijadikan syaitan yang terkutuk, dan dengan pergantungan harapan Adam telah dibenarkan duduk di dalam syurga dan menikmati segala kebahagiaannya, manakala aku telah mencapai hajatku daripada Adam dan aku terkeluar dari syurga.

Diberitakan, bahwa Iblis pernah menemui (Nabi) Musa alaihis-salam, lalu dia berkata kepadanya: Hai Musa! Engkaulah orang yang dipilih Allah untuk menyebarkan perutusanNya dan Dia telah berkata-kata pula kepadamu. Dan aku juga dari ciptaan Allah Ta’ala, aku telah berdosa kepada Allah, dan sekarang aku hendak bertaubat kepadaNya, maka syafaatkanlah aku kepada Tuhanku azzawajalla supaya mengampuni aku!

Maka Nabi Musa pun berdoa memohon Tuhannya, lalu dikatakan kepada Musa: Hai Musa! Aku telah perkenankan permintaanmu itu.

Bila Musa menemui lagi Iblis, lalu disampaikan kepadanya syarat taubatnya itu, iaitu hendaklah dia bersujud kepada kubur Adam, niscaya taubatnya akan diterima Tuhan.

Tetapi Iblis lalu takabbur lagi seraya marah, dia berkata: Hai Musa! Aku tidak mahu sujud kepada Adam sewaktu dia masih hidup, inikan pula dia sudah mati, apakah engkau ingat aku akan bersujud kepadanya sesudah dia mati?

Kemudian Iblis mengatakan lagi: Hai Musa! Aku berhutang budi kepadamu, kerana engkau telah mensyafaatku kepada Tuhanmu, maka ingatlah aku pada tiga perkara yang berikut ini, aku tidak akan membinasakanmu ketika itu:-

1.Ingatlah aku ketika engkau lagi marah, kerana aku penuh kuasa dalam hatimu, mataku tepat pada matamu, dan aku mengalir di dalam tubuhmu seperti mengalirnya darah dalam tubuh badan.

2.Ingatlah aku ketika sedang pertemporan sengit dalam peperangan, sebab aku datang kepada anak-anak Adam ketika pertemporan yang sangat kuat, lalu aku mengingatkannya anak isterinya dan kaum keluarganya, sehingga akhirnya mereka akan lari dari medan perang.

3.Awas kamu daripada berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahram, kerana aku ketika itu menjadi perangsangnya kepadamu, dan menjadi sekaligus perangsangmu kepadanya.

Berkata Al-Qurasyi, dan telah berbicara kepadaku Abu Hash As-Shaffar, berbicara kepadaku Ja'far bin Sulaiman, berbicara kepadaku Syu'bah, daripada Ali bin Zaid, daripada Said Al-Musaiyib r.a. katanya:

Tiada diutus Allah seorang Nabi, melainkan Iblis tidak putus asa hendak membinasakannya dengan wanita.

Berkata Al-Qurasyi, dan telah berbicara kepadaku Al-Qasim bin Hasyim, daripada Ibrahim bin Al-Asy'ats, daripada Fudhail bin lyadh, katanya,

telah berbicara kepadaku setengah tok guru kami mengatakan, bahwa Iblis yang terkutuk telah datang kepada Musa alaihis-shalatu wassalam sedang beliau lagi bermunajat kepada Tuhannya, lalu Iblis itu ditahan oleh Malaikat seraya berkata kepadanya: Celaka engkau! Apa yang engkau mahu daripadanya, padahal dia dalam keadaan bermunajat kepada Tuhannya? Iblis menjawab: Aku mengharap daripadanya seperti mana yang aku harapkan daripada Bapaknya, Adam, ketika dia masih di dalam syurga.

Berkata Al-Qurasyi, dan telah berbicara kepadaku Ahmad bin Abdul A'laa As-Syaibani, berbicara kepadaku Faraj bin Fudhalah, daripada Abdul Rahman bin Ziyad r.a. katanya:

Ketika Musa alaihis salam sedang berada di majlisnya yang biasa, tiba-tiba Iblis datang kepadanya berpakaian selendang yang berwarna-warni. Apabila dia sampai di tempat Musa, ditanggalkannya kain selendang itu dan diletakkannya di bawah, kemudian dia memberi salam, ucapnya: Salam sejahtera ke atasmu, hai Musa!

Lalu Musa a.s. bertanya: Siapa engkau ini?

Jawabnya: Aku Iblis.

Maka berkata Musa: Tiada di-selamatkan Allah engkau, apa engkau mahu?

Jawab Iblis: Aku datang untuk mengucapkan selamat kepadamu kerana pangkatmu dan kedudukanmu di sisi Allah.

Kata Musa pula: Apa yang aku lihat engkau pakai tadi?

Jawab Iblis: Selendang, yang dengannya aku memperdayakan had anak-anak Adam.

Tanya Musa lagi: Apakah yang apabila dibuat manusia, engkau akan menguasainya?

Jawabnya: Jika dia merasa megah dengan dirinya, dan merasa sudah banyak amalnya, dan telah melupakan dosa-dosanya. Dan aku mengancam-mu pula dengan tiga perkara:-

1.Janganlah engkau duduk bersendirian dengan seorang wanita yang tiada halal bagimu sama sekali, sebab apabila seseorang lelaki duduk bersendirian dengan seorang wanita yang tiada halal baginya, melainkan aku menjadi teman ketiganya yang terus akan menggoda-nya sehingga ia terfitnah dengannya.

2.Jangan kamu berani membuat suatu janji kepada Allah, melainkan hendaklah engkau segera menepati janji itu, kerana sesungguhnya tiada seorang yang membuat janji kepada Allah, melainkan aku menjadi teman ketiganya, sehingga aku akan menghalang antaranya dengan penepatan janji itu.

3.Jangan kamu menyimpan sedekah melainkan hendaklah engkau teruskan pengeluarannya, kerana sesungguhnya tiada seorang yang mahu mengeluarkan sedekah, lalu dia tiada meneruskan pengeluarannya, melainkan aku menjadi teman ketiganya, lalu aku akan cuba menghalanginya untuk mengeluarkannya.

Kemudian Iblis pergi meninggalkan tempat itu, seraya mengatakan: Alangkah celakanya dia itu! - diucapkannya sampai tiga kali. Sekarang Musa sudah tahu apa yang mesti diancam olehku kepada anak-anak Adam.

Berkata Al-Qurasyi, dan telah berbicara kepadaku Muhammad bin Idris, berbicara kepadaku Ahmad bin Yunus, berbicara kepadaku Hasan bin Saleh, katanya, aku pernah mendengar, bahwa syaitan telah berkata kepada kaum wanita: Kami sebahagian dari tenteraku, dan kamu juga adalah anak panahku yang aku lemparkan dengannya, dan lemparanku tidak pernah menyalahi sasarannya. Kamu adalah tempat rahasiaku dan utusanku pada segala keperluanku!

Berkata Al-Qurasyi, dan telah berbicara kepadaku Ishak bin Ibrahim, berbicara kepadaku Hisyam bin Yusuf bin Aqil bin Ma'qil, anak saudara Wahab bin Munabbih, berkata; aku pernah mendengar Wahab bin Munabbih bercerita:

Seorang rahib telah berkata kepada syaitan ketika dia menjelma kepadanya: Mana satu perilaku anak Adam yang sungguh membantumu terhadap mereka? Jawabnya: Keras kepala! Sesungguhnya seseorang hamba, apabila perilakunya seperti besi, aku akan bolak-balikkannya sebagaimana anak kecil membolak-balikkan bola.

Berkata Al-Qurasyi, dan telah berbicara kepadaku Said bin Sulaiman Al-Wasithi, daripada Sulaiman bin Al-Mughirah, daripada Tsabit r.a. katanya:

Apabila Nabi Muhammad s.a.w. diutus Allah, maka Iblis pun sibuk mengutus syaitan-syaitannya kepada para sahabat Nabi s.a.w. untuk memperdayakan mereka. Akan tetapi mereka sekalian telah kembali semula kepada Iblis membawa kitab-kitab mereka yang kosong, tiada tertulis padanya apa pun. Lalu Iblis berkata kepada mereka: Apa sebabnya kamu sekalian tidak dapat memperdayakan mereka apa pun? Syaitan-syaitan itu menjawab: Kami tidak pernah mendatangi suatu kaum seperti orang-orang ini. Kemudian Iblis segera menyampuk: Bertenang! Bertenang dulu! Moga-moga nanti akan terbuka bagi mereka dunia, ketika itulah kamu akan dapat memperdayakan mereka dengan mudah sekali.

Berkata Al-Qurasyi, dan telah memberitahuku Ahmad bin Hanbal Al-Mirwazi, memberitahuku Ibnu Al-Mubarak, memberitahuku Sufyan, daripada Atha' bin As-Sa'ib, daripada Abu Abdul Rahman As-Sulami, daripada Abu Musa, katanya:

Setiap pagi Iblis mengumpulkan tenteranya di muka bumi, lalu berkata kepada mereka: Siapa yang telah menyesatkan orang Muslim, aku akan pakaikan mahkota ini!

Maka berkatalah syaitan pertama: Aku terus menggoda si fulan, sehingga dia mentalakkan isterinya! Jawab Iblis: Itu tidak cukup, sebab nanti dia akan berkahwin lagi.

Berkata yang kedua: Aku menghasut si fulan, sehingga dia menderhaka orang tuanya! Sampuk Iblis: Itu tidak cukup, kerana nanti dia akan mentaatinya lagi. Yang lain pula berkata: Aku tetap menggoda si fulan, sehingga dia berzina! Kata Iblis: Ini dia yang betul sekali!

Yang lain lagi berkata: Aku pula menggoda si fulan, sehingga dia minum minuman keras!

Kata Iblis: Engkau juga bagus sekali!

Yang lain lagi berkata: Aku pula menghasut si fulan, sehingga dia membunuh!

Kata Iblis: Syabas! Syabas! Itu yang betul!

Berkata Al-Qurasyi, dan aku mendengar Said bin Sulaiman berbicara daripada Al-Mubarak bin Fudhalah, daripada Al-Hasan, katanya:

Ada suatu pohon yang dikatakan orang menyembahnya selain daripada Allah. Maka datanglah seorang lelaki untuk memotong pohon itu, katanya:

Aku akan memotong pohon ini lantaran marah kerana Allah!

Tiba-tiba muncul Iblis yang menyerupai manusia, lalu berkata kepada lelaki itu: Apa yang engkau mahu buat terhadap pohon ini?

Jawab lelaki itu: Aku hendak potong pohon ini kerana ramai orang menyembahnya selain dari Allah.

Dengan lembut Iblis menghujjahnya: Kalau engkau sudah tidak menyembahnya, apa peduli engkau kepada orang lain yang menyembahnya?!

Tetapi lelaki itu masih berkeras juga, katanya: Aku tetap akan memotongnya juga!

Lalu Iblis membuat pujuk rayunya, katanya: Mahukah engkau timbangkan perkara ini semula, kalau aku mencadangkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang akan engkau lakukan itu?!

Kata lelaki itu: Apa dia?

Jawab Iblis: Engkau jangan potong pohon ini, dan aku akan berikan kepadamu setiap hari dua dinar emas, yang akan engkau mendapatinya di bawah bantalmu pada setiap pagi.

Tanya lelaki itu: Bagaimana aku dapat pastikan yang aku akan peroleh dua dinar emas itu?

Jawab Iblis: Aku jamin engkau akan dapat dinar emas itu!

Lelaki itu kembali tidak jadi memotong pohon itu, dan dia tidur malam itu, dan pada paginya dilihatnya di bawah bantalnya ada dinar emas sebagaimana yang dikatakan Iblis yang berupa manusia itu. Kemudian pada pagi keduanya, dicari lagi di bawah bantalnya, tetapi tidak ada apa-apa.

Lelaki itu lalu segera mendapatkan pohon tadi dalam keadaan marah untuk memotong pohon itu, lalu dia telah ditemui sekali lagi oleh iblis itu yang berkata kepadanya: Apa fasal engkau datang lagi?

Jawab lelaki itu: Aku hendak memotong pohon yang disembah orang selain Allah Ta’ala.

Iblis meningkas: Engkau dusta! Tak ada jalan engkau dapat lakukan itu!

Lelaki itu terus pergi hendak memotong pohon itu, maka dengan tiba-tiba bumi di sekitaran pohon itu menelannya hingga ia hampir-hampir mati tercekik.

Kemudian muncullah manusia itu kepadanya, bertanya: Engkau tahu, siapa aku ini? Akulah Iblis! Engkau datang pada mulanya memang benar-benar marah kerana Allah, sebab itu aku tidak dapat jalan untuk memperdayamu. Tetapi rupanya engkau dapat ditipu oleh dua dinar emas, sehingga engkau memutuskan keazamanmu hendak memotong pohon ini. Apabila engkau datang kali ini ialah kerana marah tidak dapat dua dinar lagi, sebab itu bumi ini telah menelanmu!

Berkata Al-Qurasyi, telah berbicara kepadaku Bisyr bin Al-Walid Al-Kindi, berbicara kepadaku Muhammad bin Talhah, daripada Zaid bin Mujahid, katanya:

Iblis mempunyai lima orang anak, lalu ditetapkan bagi setiap anak suatu tugas untuk menjaga urusannya. Kemudian dinamakan kelima-lima anak itu seperti berikut, iaitu: Tsabar, Al-A'war, Masuth, Dasini dan Zaknabur.

Adapun Tsabar, tugasnya mengendalikan orang-orang yang ditimpa musibah, yakni bencana, lalu dia membisikkan kepadanya supaya bersedih had, yang membawa kepada mengoyakkan pakaian, memukul-mukulkan pipi dan badan, menjerit melolong sebagaimana yang dibuat orang-orang zaman jahiliah.

Al-A'war, bertugas menggoda orang supaya melakukan zina, perbuatan keji yang dikutuk Allah dengan memperindahkan dan mengelokkannya kepada manusia.

Manakala Masuth, maka dia adalah tukang menyebarkan dusta dari seorang kepada orang lain dengan menyampaikan segala berita-berita yang palsu, sehingga seseorang akan mendatangi suatu kumpulan orang ramai, seraya berkata:

Aku lihat seorang mengatakan begini dan begitu kepada kamu, aku kenal rupanya, tetapi aku tidak kenal namanya. Kemudian yang bernama Dasim, dan ia bertugas untuk membuat fitnah antara suami dengan isterinya, cuba mendedahkan keaiban masing-masing dan mengungkit-ungkit perkara yang boleh menyebabkan mereka marah dan berselisih faham.

Yang terakhir sekali, iaitu Zaknabur, dia ini bertugas mengganggu orang-orang yang di pasar, dia mencacakkan benderanya di situ, yakni membuat angkara antara orang yang berjual-beli.

Telah memberitahuku Muhammad bin Al-Qasim, memberitahu-ku Ahmad bin Ahmad, memberitahuku Abu Nu'aim, berbicara kepadaku Ibrahim bin Abdullah berbicara kepadaku Muhammad bin Ishak, berbicara kepadaku Ismail bin Abul Haris, berbicara kepadaku Sunaid, daripada Makhlad bin Al-Husain, katanya:

Tiada sesuatu perkara yang dianjurkan Allah kepada para hambaNya, melainkan ditentang padanya Iblis dengan dua hal, tiada dipedulikannya yang mana satu saja yang dapat dicapainya, iaitu: Sama ada menyebabkan orang itu melampaui batas dalam perkara itu, ataupun menyebabkan-nya cuai dan lalai kepadanya.

Dan dengan sanad Hadis, telah berkata Muhammad bin Ishak, berbicara kepadaku Qutaibah bin Said, berbicara kepadaku Ibnu Lahi'ah, daripada Abu Qubail, katanya aku mendengar Hayat bin , Syarahil berkata, aku mendengar Abdullah bin Umar r.a. berkata:

Sesungguhnya Iblis itu terikat di bumi yang terbawah sekali, dan apabila dia bergerak, berlakulah setiap kejahatan di muka bumi ini antara dua orang, atau lebih dari itu dari sebab pergerakannya.

Berkata Syaikh Abul Faraj rahimahullahu-ta'ala:

Sebenarnya bencana syaitan dan tipudayanya memang sangat banyak sekali, dan saya selitkan pada bahagian-bahagian buku ini mana yang cocok dengannya, Insya Allah. Dan lantaran terlalu banyaknya bencana syaitan itu dan pengaruhnya di hati manusia, sampai menjadi sukar sekali untuk selamat daripadanya. Jadi siapa yang meninggalkan segala yang dihasut oleh hawa nafsu, terlepaslah dia dari bahayanya.

Apabila hawa nafsu telah mempengaruhi Harut dan Marut tidak tanggung dia melepaskan diri daripadanya. Sebab itulah, apabila para Malaikat mendapati seorang Mukmin yang mati atas keimanannya, mereka lalu merasa takjub dan hairan, betapa dia itu dapat terselamat dari perdayaan syaitan itu.

Telah memberitahuku Muhammad bin Abu Manshur, memberitahuku Ja'far bin Ahmad, memberitahuku Al-Hasan bin Ah At-Tamimi, berbicara kepadaku Abu Bakar bin Hamdan, berbicara kepadaku Abdullah bin Ahmad, berbicara kepadaku Ibnu Suraij, katanya telah berbicara kepadaku Utbah bin Abdul Wahid, daripada Malik bin Maghul, daripada Abdul Aziz bin Rafik, katanya:

Apabila dibawa naik roh seorang Mukmin ke atas langit, maka berkata para Malaikat: Maha Suci Allah yang telah menyelamatkan sang hamba ini daripada syaitan. Alangkah bertuahnya dia, bagaimana dia dapat terselamat!

Setiap manusia ada syaitannya!

Telah memberitahuku Abul Hushain As-Syaibani, memberitahuku Abu Ali Al-Mudzahhab, memberitahuku Abu Bakar bin Hamdan, berbicara kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, berbicara kepadaku Ubai, berbicara kepadaku Harun, berbicara kepadaku Abdullah bin Wahab, memberitahuku Abu Sakhr, daripada Ibnu Qusaith, bahwasanya dia berbicara kepadanya bahwa Urwah bin Az-Zubair berbicara kepadanya, bahwa Siti Aisyah r.a. isteri Nabi s.a.w. berbicara kepadanya, bahwasanya Rasulullah s.a.w. pernah keluar dari rumah Aisyah pada suatu malam, lalu aku merasa cemburu terhadapnya. Apabila beliau kembali dan melihat apa yang aku lakukan,

beliau lalu berkata kepadaku: Hai Aisyah! Apakah engkau cemburukan aku?!

Jawabku: Bagaimanakah orang macam aku ini tidak merasa cemburu terhadap orang macam engkau?

Kemudian beliau berkata pula: Kenapa sampai begitu? Apakah syaitanmu telah merasukmu?!

Aku lalu bertanya: Hai Rasulullah! Apakah aku punyai syaitan?

Jawab beliau: Benar! Aku tanya lagi: Apakah syaitan itu ada dengan semua manusia?

Jawab beliau: Benar!

Aku berkata lagi: Dan engkau juga ada syaitan?!

Jawab beliau: Benar, akan tetapi Tuhanku membantuku terhadap syaitan itu hingga akhirnya dia menyerah kalah (Riwayat Muslim).

Dan dalam lafaz yang lain: Akan tetapi Tuhanku membantuku terhadapnya, lalu dia menyerah kalah.

Berkata Al-Khattabi: Kebanyakan para rawi Hadis mengatakan bahwa syaitan Nabi ini telah 'masuk Islam', kecuali Sufyan bin Uyainah, maka dia berkata bahwa syaitan itu telah menyerah kalah dari kejahatannya, sebab katanya lagi bahwa syaitan tidak akan masuk Islam.

Berkata Tuan Syaikh (yakni Ibnul Qayyim):

Pendapat Sufyan bin Uyainah itu bagus, kerana dia telah menonjolkan kesan mujahadah (penentangan) untuk menolak syaitan itu, tetapi Hadis yang di-riwayatkan Ibnu Mas'ud ini menolak pendapat Sufyan di atas tadi; iaitu apa yang telah memberitahuku Ibnul Hushain, memberitahuku Ibnul Mudzahhab, memberitahuku Abu Bakar bin Malik, berbicara kepadaku Abdullah bin Ahmad, berbicara kepadaku Ubai, berbicara kepadaku Yahya, daripada Sufyan, berbicara kepadaku Manshur, daripada Salim bin Abul Ja'ad, daripada ayahnya, daripada Ibnu Mas'ud yang dirafakkannya kepada Nabi s.a.w. katanya:

"Tiada seorang pun dari kamu, melainkan ia telah diiringi temannya dari jin (syaitan) dan temannya dari Malaikat.

Para sahabat berkata: Dan padamu juga, hai Rasulullah?!

Jawab beliau: Padaku juga, akan tetapi Allah azzawajalla telah membantuku terhadapnya, sehingga dia tiada menyuruhku kecuali yang benar-benar saja." (Riwayat Muslim)

Dan dalam riwayat yang lain: Dan tiada dia menyuruhku, kecuali yang baik-baik belaka.

Berkata Syaikh Ibnul Qayyim: Yang ternyata dalam masalah ini, bahwa syaitan itu telah masuk Islam. Dan boleh jadi juga maksudnya lain daripada ini.

Mengalir dalam tubuh manusia seperti mengalirnya darah

Telah memberitahuku Hibatullah bin Muhammad, memberitahu-ku Al-Hasan bin Ali, memberitahuku Ahmad bin Ja'far, memberitahuku Abdullah bin Ahmad, memberitahuku Ubai, memberitahuku Abdul Razzak, memberitahuku Ma'mar, daripada Az-Zuhri, daripada Ali bin Al-Husain, daripada Shafiyah binti Huyai, isteri Nabi s.a.w. yang berkata:

Adalah Rasulullah s.a.w. sedang beri'tikaf (di masjid), maka aku datang kepadanya suatu malam untuk memberitahunya sesuatu hal, kemudian aku bangun hendak kembali, maka beliau pun bangun untuk menghantarkanku, dan rumahku ketika itu di rumah Usamah bin Zaid (cucu Rasulullah dari anak angkatnya). Bila di luar masjid, tiba-tiba berlalu di situ dua orang dari kaum Anshar, dan sebaik-baik mereka terlihat Rasulullah s.a.w. mengiringi Shafiyah (yang berkelubung), mereka berjalan cepat-cepat berpaling dari arah itu.

Maka segera Rasulullah s.a.w. berujar: Jalan pelan-pelan, dan jangan kelam-kabut! Dia ini adalah Shafiyah binti Huyai!

Kedua orang itu kemudian berpaling seraya menjawab: Subhaanallah, hai Rasulullah! (Maksudnya, kami tidak menyangka apa yang tidak baik).

Tingkah Rasulullah s.a.w. pula:

"Sesungguhnya syaitan itu mengalir di tubuh anak Adam laksana mengalirnya darah, dan bahwasanya aku bimbang dia akan menimbulkan di dalam hati kamu sesuatu yang jahat." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat lain tidak ada kalimat 'yang jahat', hanya 'sesuatu' saja.

Berkata Al-Khattabi: Dalam Hadis ini terselit suatu pengajaran, iaitu baik mengingatkan manusia terhadap sesuatu perkara yang tidak baik, yang boleh menimbulkan syak dan sangka yang buruk yang kerap terlekat pada hati, dan harus pula menyatakan kebersihan diri dari syak dan ragu itu kepada orang supaya terselamat dari sangkaan buruk mereka.

Dan mengenai hal ini juga, Imam Syafi'i mengomentar, katanya:

Nabi s.a.w. merasa bimbang kalau tersembul di dalam hati mereka (yakni kedua orang Anshar tadi) sesuatu yang tidak baik terhadap Nabi s.a.w. lalu dengan sebab itu mereka menjadi kafir. Jadi, jelaslah bahwa Nabi s.a.w. memberitahunya begitu kerana belas-kasihannya terhadap mereka, bukan faedahnya kembali kepada dirinya sendiri.

Mengapa harus berta'awwudz daripada syaitan yang terkutuk

Berkata Syaikh Abul Faraj rahimahullahu-ta'ala: Allah Ta’ala telah memerintahkan kita supaya berta'awwudz (membaca: a'udzu billahi minasy-syaitanir-rajim) daripada syaitan yang terkutuk ketika hendak membaca Al-Quraan, sesuai dengan firman Allah yang berikut:

"Apabila engkau membaca Al-Quraan, maka berlindung dirilah kepada Allah daripada syaitan yang terkutuk." (An-Nahl: 98)

Dan ketika datang waktu malam, sesuai dengan surah Qul a'udzu birabbil-falaq, atau Surat Al-Falaq hingga ke akhirnya. Kalau Allah s.w.t. menyuruh kita supaya berlindung diri kepadaNya daripada kejahatan syaitan itu pada dua perkara ini, tentulah lebih-lebih lagi pada selainnya.

Telah memberitahuku Hibatullah bin Muhammad, memberitahu-ku Al-Hasan bin Ali, memberitahuku Ahmad bin Ja'far, memberitahuku Abdullah bin Ahmad, memberitahuku Ubai, berbicara kepadaku Saiyar, berbicara kepadaku Ja'far, berbicara kepadaku Abu At-Taiyah, katanya, aku telah berkata kepada Abdul Rahman bin Hunaisy:

Apakah engkau pernah menemui Nabi s.a.w.?

Jawabnya: lya! Katanya lagi: Apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w. pada malam syaitan hendak mencelakakannya?

Jawabnya: Ada beberapa syaitan yang turun dari atas bukit dan tempat tinggi pada malam itu mengepung Rasulullah s.a.w. dan di antara meraka ada syaitan yang di tangannya memegang api hendak dibakarnya wajah Rasulullah s.a.w.

Maka segera datang Malaikat Jibril a.s. seraya berkata kepada Nabi:

Hai Muhammad, bacalah! Jawab Nabi: Apa yang mesti aku baca? Lalu berkata Jibril Lagi: Bacalah begini!

Aku berlindung diri (kepada Allah) dengan beberapa kalimat Allah yang sempurna daripada kejahatan yang diciptakan, yang dijadikan dan dibolehkan; dan daripada kejahatan yang turun dari langit; dan kejahatan yang naik kepadanya; dan daripada kejahatan bencana malam dan siang; dan daripada kejahatan setiap yang datang menjelma, kecuali yang datang membawa kebaikan, wahai Tuhan Maha Pengasih!"

Sebaik-baik dibaca Nabi ayat tadi, terpadamlah api syaitan itu, dan larilah mereka dibelasah oleh Allah Ta’ala.

Telah memberitahuku Ismail bin Ahmad As-Samarqandi, memberitahuku Ashim bin Al-Hasan, memberitahuku Abul Husain bin Bisyran, memberitahuku Ibnu Shafwan, berbicara kepadaku Abu Bakar Al-Qurasyi, berbicara kepadaku Abu Salamah Al-Makhzumi, berbicara kepadaku Ibnu Abu Fudaik, daripada Adh-Dhahhak bin Usman, daripada Hisyam bin Urwah, daripada ayahnya, daripada Siti Aisyah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. berkata:

"Sesungguhnya syaitan akan mendatangi salah seorang kamu, lalu berkata kepadanya:

Siapa yang menjadikanmu?

Jawabnya: Allah Maha Berkat Maha Tinggi.

Dia bertanya lagi: Siapa pula yang menjadikan Allah?

Maka apabila terbisik di hati seorang di antara kamu serupa itu, hendaklah ia mengatakan 'Aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya!’ nanti hal itu akan hilang daripadanya."

Berkata Al-Qurasyi, telah berbicara kepadaku Hannad bin As-Sariy, berbicara kepadaku Abul Ahwash, daripada Atha' bin As-Sa'ib, daripada Murrah Al-Hamdani, daripada Ibnu Mas'ud r.a. dirafakkannya kepada Nabi s.a.w. katanya:

"Sesungguhnya anak Adam itu mendapat suatu bisikan daripada syaitan, dan suatu bisikan daripada Malaikat. Adapun bisikan syaitan itu ialah menjanjikan segala kejahatan dan mendustakan segala kebenaran. Manakala bisikan Malaikat pula ialah menjanjikan segala kebaikan dan mengakui segala kebenaran. Jadi sesiapa yang mendapati sesuatu dari yang ini, hendaklah ia tahu bahwa semua itu daripada Allah, maka wajarlah dia memuji Allah. Dan sesiapa yang mendapati yang lain dari ini, hendaklah ia berta'awwudz (berlindung diri) daripada syaitan. Kemudian beliau membaca (ayat): Syaitan itu menjanjikan kamu kemiskinan dan menyuruh kamu mengerjakan pekerjaan keji (zina), dan Allah menjanjikan keampunan dan kurnia daripadaNya. " (Al-Baqarah: 268)

Berkata Syaikh Abul Faraj rahimahullahu-ta'ala: Telah diriwayat oleh Jarir daripada Atha' yang digantungkan kepada Ibnu Mas'ud, bahwa telah memberitahuku Hibatullah bin Muhammad, memberitahuku Al-Hasan bin Ali, memberitahuku Ahmad bin Ja'far, berbicara kepadaku Abdullah bin Ahmad, berbicara kepadaku Ubai, berbicara kepadaku Abdul Razzak, memberitahuku Sufyan, daripada Manshur, daripada Al-Minhal bin Amru, daripada Said bin Jubair, daripada Ibnu Abbas r.a. katanya:

"Pernah Rasulullah berta'awwudz untuk Al-Hasan dan Al-Husain, lalu beliau membaca: Aku lindungkan kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, daripada setiap syaitan dan binatang yang melata, daripada mata yang jahat!

Kemudian beliau berkata: Beginilah dahulu Bapakku (Datukku) Ibrahim a.s. melindungkan Ismail dan Ishak." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Berkata Abu Bakar bin Al-Anbari: Semua binatang yang melata, termasuk haiwan yang hidup yang mempunyai nyawa yang mahu membuat susah kepada manusia.

Telah memberitahuku Muhammad bin Nasir, memberitahuku Al-Mubarak bin Abdul Jabbar Ibrahim bin Umar Al-Barmaki, memberitahuku Abul Hasan Abdullah bin Ibrahim Az-Zaini, berbicara kepadaku Muhammad bin Khalaf, berbicara kepadaku Abdullah bin Muhammad, berbicara kepadaku Fudhail bin Abdul Wahhab, berbicara kepadaku Ja'far bin Sulaiman, daripada Tsabit, katanya; telah berkata Mutharrif:

Aku merenungkan, maka aku dapati anak Adam itu terdedah antara kuasa Allah azzawajalla, dan kuasa Iblis. Siapa yang Allah mahu melindungnya dilindungi Nya lah. Dan jika dibiarkan Nya, orang itu akan diserkup Iblis.

Diberitakan daripada setengah kaum salaf, bahwa seorang di antara mereka pernah menanyakan muridnya:

Apa yang akan engkau buat, jika syaitan membisik kepadamu untuk melakukan dosa dan maksiat?

Jawab sang murid: Aku akan menentangnya.

Tanya sang guru lagi: Jika dia kembali membisikkan lagi?

Jawab murid itu: Aku tetap menentangnya juga.

Tanya guru itu lagi: Kalau dia kembali lagi?

Sang murid tetap menjawab: Aku terus menentangnya.

Kemudian guru itu berkata: Cara begini tentulah tidak ada habis-habisnya dan berkepanjangan.

Kemudian guru itu membuat perumpamaan kepada muridnya ini, katanya: Kalau engkau berlalu di hadapan sekumpulan kambing, lalu anjing yang mengawal kambing itu menggonggongmu, atau menghalangmu dari melintas, apa yang mesti engkau buat?

Jawab sang murid: Aku cuba mengelakkannya dan menghalaunya sekuat tenagaku.

Maka sang guru berkomentar, katanya: Cara begini akan mengambil masa yang panjang. Mengapa engkau tidak memohon bantuan tuan punya kambing yang ada di situ, supaya dia yang menghalang anjing itu daripadamu?!

Berkata Syaikh Abul Faraj rahimahullahu-ta'ala:

Ketahuilah bahwa perumpamaan Iblis itu apabila dia berada dengan orang yang bertaqwa dan orang yang lalai banyak dosanya, ialah seperti seorang lelaki yang sedang duduk di tangannya ada makanan, lalu datang kepadanya seekor anjing, maka orang itu menghalaunya, dan anjing itu pun segera pergi. Kemudian anjing itu melalui seorang lelaki yang lain yang di tangannya ada makanan dan daging, dan setiap kali dihalaunya anjing itu, dia tetap menetap di tempatnya tidak mahu pergi. Begitulah perumpamaannya orang yang bertaqwa itu, bila datang kepadanya syaitan cukuplah ia menghalaunya dengan sebutan zikir dan sebagainya. Dan perumpamaan yang kedua seperti orang yang banyak dosanya dan lalai pula, syaitan sama sekali tidak berpisah dengannya disebabkan dosanya yang banyak dan lalainya yang tidak berhenti.

Kita berlindung diri kepada Allah daripada kejahatan syaitan yang  terkutuk itu.

No comments:

Post a Comment

Man Ana ???

My Photo
Melaka, Malaysia
Pengembaraan Insan Tiada Noktah Tanpa Syarat Meniti Kebahagiaan. Email : iq_insan@yahoo.com

Popular Posts

CAPAIAN BLOG